Bioskop Kereta

Sebagai penyandang gelar anak perantauan, aku terbiasa melakukan perjalanan jauh. Dan perjalanan jakarta-surabaya kali ini kutempuh dengan menggunakan kereta, tepatnya kereta ekonomi Gaya Baru Malam. Sengaja pilih ekonomi, tapi bukan bermaksud menyesuaikan dengan fakultas tempatku kuliah. Lebih dari sekedar gerbong besi yang mengantarkanku dari kota ke kota, kereta ini memberiku banyak pelajaran berharga.

Dari sekian ratus kursi yang tertata rapi seperti rangka ular, aku duduk di kursi 17 A gerbong 2. Samping cendela selalu menjadi tempat favoritku. Aku bisa melihat pemandangan luar untuk mengusir jenuh. Pukul 13.20 gerbongku bergerak menghamba pada lokomotif yang melaju. Kecepatan kereta naik perlahan seiring ujung lokomotif melahap lintasan rel.

Kalian tahu jumlah bantalan rel kereta api sepanjang jalur di Jawa ini? Tak perlu menyusuri rel untuk menyebutnya banyak sekali, bukan? Mungkin sebanyak itulah kisah hidup dibaliknya. Aku membayangkan jalur rel ini seperti pita film yang menyimpan potongan-potongan kisah. Pita film tersebut akan terus terisi begitu kereta melewati relnya. Setiap penumpang berkesempatan untuk menikmati bioskop kereta ini.

17 Juni 1864 silam merupakan awal jalur baja ini. Cangkulan ringan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele mengawali pembangunan jalur dari Kemijen sampai Tanggung. Inilah kisah pertama yang tersimpan dalam pita film itu. Kini jalur ini membentang sepanjang Pulau Jawa, menyebar seperti akar, dan menyimpan lebih ribuan kisah yang terus bertambah.

Aku tak begitu mengerti sejarah, tapi yang jelas pembangunan kereta api ini menelan pengorbanan yang besar. Dari mulai pembuatan jalur hingga aku bisa duduk menanti pemberhentian stasiun tujuan, terdapat banyak kisah perjuangan di baliknya. Mari berklise-ria untuk membayangkan peluh pribumi yang dipaksa Belanda membangun jalur kereta api ini, atau menjadi kuli batu bara yang menghedupkan mesin uap kereta. Hasil kesengsaraan mereka yang kini kunikmati.

Aku mencoba menerawang gambar lain yang akan mengisi bantalan rel yang juga menumpuk kisah perjuangan penjajahan dulu. Seorang tentara yang dinanti istri tercinta di rumah. Sekelompok anak muda yang hendak berlibur. Pekerja urban yang ingin pulang kampung. Rombongan keluarga yang ingin menyambung tali silaturahim sanak jauhnya. Pedagang asongan yang lalu-lalang untuk keempatkalinya. Pengemis yang entah berdaya atau memang papa mengajukan proposal kerja samanya. Juga aku sendiri yang menonton pemutaran pita film-film itu.

Tak perlu membayar mahal untuk bisa menikmati film-film itu. Cukup duduk manis menyimak sekelilingku - pesan popcorn marning yang terus berlalu-lalang (kali ini yang ke lima) dan bioskop kereta siap menayangkan film-film mereka. Layaknya kisah Yusuf yang dijadikan ibrah (Yusuf: 111), selalu ada pelajaran yang dapat diambil dari kisah setiap manusia. Mereka yang dewasa mengajariku untuk lebih bijaksana. Mereka yang muda mengajariku untuk selalu ceria dan bersemangat. Mereka yang bekerja menyambung hidup mengajariku untuk pantang menyerah. Mereka yang membisu mengajariku untuk tak mengeluh pada kehidupan. Mereka yang tersenyum dengan segala keterbatasan mengajariku untuk selalu bersyukur.

Satu hal yang menyenangkan di ujung perjalanan kereta ini adalah menanti matahari terbit. Dari tempat duduk serba sempit, secercah cahaya menembus jendela. Merekah malu-malu, namun dengan gamblang memamerkan keindahannya. Terang tapi tak menyilaukan, hangat tapi tak menyengat. Memberi semangat untuk memulai kisah baru yang akan tersimpan dalam bantalan rel yang terlewat.

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu