kisah sekuntum bunga

Kisah ini bercerita tentang kehidupan di dunia antah berantah. Di dunia ini tak ada rasa kepedulian untuk berbagi, tak ada tangan yang terulur untuk sekedar membantu mereka yang papa agar bisa berdiri. Semua orang sibuk dalam keegoisannya sendiri.

Dalam keruhnya dunia itu, di pinggir jalan terdapat sebuah pot kusam dan sebutir biji bulat yang keriput. Tentu tak ada yang peduli, tapi biji ini tak pernah kehilangan harapan untuk tumbuh. Pasti ada tangan tak terlihat yang akan menolongnya. Entah apa pasal hujan tiba-tiba mengguyurnya, memberikan janji kehidupan yang baru. Auksin, giberelin, sitokinin, beserta hormon tumbuhan lainnya yang aku tak tahu bergotong royong - mewujudkan keinginannya untuk hidup.

Lambat laun, pelan tapi pasti bunga itu tumbuh perlahan. Dari tudung tumbuh daun, dari kecambah menjadi batang. Hingga pada suatu pagi sang suria bersinar lebih cerah. Saat itu ia menatap mahkota yang memantulkan spektrum cahayanya dengan begitu indah - menyejukkan mata siapapun yang memandang.

Di balik mahkota itu tersembunyi ketulusan yang murni - memberikan warna bagi dunia yang serba abu-abu, menyadarkan  siapapun untuk selalu ceria walaupun di atas sana mendung, mengajarkan semua untuk selalu kuat dan tegar, seberapapun kencangnya angin. Tanpa mengharapkan apapun, ia tetap mekar walaupun  tak ada yang peduli.

Bunga itu bisa hidup sendiri. Ia ber-anabolisme untuk mencukupi kebutuhannya. Tapi baginya bukan ini yang disebut mandiri. Karena mandiri tidak diukur ketika ia berhenti meminta, tetapi ketika ia mulai berbagi. Tak cukup dengan keindahan penampilan, ia berharap bisa menjadi buah yang berguna bagi semua.

Memang bunga itu tak punya waktu yang lama saat mekar, namun singkatnya kesempatan itu cukup untuk memberikan manfaat bagi semua. Keterbukaannya memberikan kesempatan bagi siapapun untuk saling bersimbiosis secara mutualis. Bahkan setelah layu dan gugurnya mahkota itu masih ada fase kehidupannya yang jauh lebih hebat dan lebih bermanfaat.

Jangan tanya ke mana. bunga itu masih ada, masih bersemi dengan indah di relung-relung hati yang menyisakan tempat untuk berbagi.

salam iCare. salam peduli.

projek

NB: maaf, saya bukan anak biologi (malah sering remed pas SMA). jadi kalau ada kesalahan istilah atau apapun tolong dikoreksi. namanya juga dongeng hehe..

Comments

  1. nice gan! kenapa mekarnya singkat kalo bisa lama?

    ReplyDelete
  2. mestinya irfan lebih tahu lah, coba entar bulan maret/april hitung berapa lama sakura-hana mekar. icare gitu juga kan, acaranya pas maret/april cuma dua hari. tapi buat ane itu begitu berarti

    ReplyDelete
  3. Annisa Firdaus Winta Damarsya18 January 2013 at 03:23

    giberelin, pyan. hehe

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan