Tak Perlu Memiliki Segalanya untuk Memberi

Malam kedua kegiatan sosial yang diadakan fakultasku. Gelap, entah apakah ada bintang di atas sana. Senyap, sebagian orang telah tidur. Tapi yang jelas Allah selalu ada dan tak pernah tidur untuk membalas kebaikan hamba-Nya, menambah nikmat yang telah disyukuri, serta mengabulkan doa-doa yang diharapkan.

Malam itu aku beserta kelompokku berbincang-bincang dengan Pak Barnas. Ia adalah tuan rumah tempat kami menginap. Orang tua yang memiliki tujuh anak ini bercerita berbagai hal, mulai dari pesawat sukhoi yang jatuh di gunung salak, misteri situs keramat, hingga kehidupan kesehariannya sebagai petani di Desa Cijulang.

Namun satu yang membuatku tertarik ketika ia bercerita bahwa ia pernah monolong seorang yang tersesat di Gunung Salak setahun yang lalu. Pak Barnas merasa kasihan pada orang yang tak berdaya tersebut, bahkan untuk sekedar mengingat namanya pun ia tak bisa. Yang tersisa hanyalah pakian yang menempel di tubuhnya serta dompet yang hanya menyisakan kartu Identitas. Pak Barnas rela merawat dan mempekerjakannya selama setahun. Hingga kini orang tersebut masih menumpang di rumah kecil Pak Barnas.

Itulah secuil kebaikan yang aku yakin masih banyak yang lain dalam kisah kerifan hidupnya. Caranya melayani kami sebagai tamu membuatku yakin akan hal itu. Ia menyuguhi kami hidangan yang bahkan ia sendiri jarang menyantapnya. “Kan jarang-jarang ada yang main ke sini.” Se-simple itulah pemikirannya.

“Tak perlu memiliki segalanya untuk memberi.” Walaupun tak pernah mengatakannya secara langsung, hal itulah yang diajarkan keluarga Pak Barnas padaku. Jangankan cukup, kehidupan mereka bahkan dapat dikatakan memperihatinkan. Namun tak ada alasan bagi mereka untuk tidak berbuat baik. Bagi mereka, sekecil apapun asalkan itu bermanfaat, mereka akan berusaha memberikan yang terbaik, bahkan untuk menolong orang yang tak mereka kenal sama sekali.

Sedikit klise tapi perlu direnungkan. Kami yang dalam kondisi lebih berada ini belum bisa memberikan apa-apa. Sering kali kami berkoar-koar atas nama tridharma perguruan tinggi namun tak ada kontribusi nyata bagi masyarakat. Pak Barnas telah menunjukkan aksi nyata tanpa perlu banyak beretorika. Bagi kami yang mahasiswa ini, entah ke mana hilangnya rasa pengabdian itu.

Malam itu, aku tahu Dia pasti menepati janjinya-Nya. Semoga dalam setiap kebaikan yang dibalas, setiap nikmat yang dilipatgandakan, setiap doa yang dikabulkan, aku berharap agar bisa memaknai jawaban-Nya, walaupun memang untuk saat ini belum untukku.

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu