Surat kecil untuk Tuhan

Kepada

Yang Maha Esa,

Allah SWT.

Engkau pasti mendengarku....

Aku menulis surat ini ketika malam. Hening. Teman-temanku telah tertidur lelap. Senyap. Entah apakah ada bulan atau bintang di luar sana. Tetapi yang jelas Engkau tak pernah tidur dan selalu ada untuk aku mintai berkah, rahmat, dan segala keinginan.

Ya Allah, atas izin-Mu segala sesuatu di dunia ini pasti berubah. Dulu aku punya selembar kanvas putih. Kini kanvas itu telah berubah menjadi sebuah lukisan. Cukuplah 3 tahun corak warna-warni membuatnya jadi indah. Meskipun terdapat bercak noda hitam yang tertempel. Kertas kosong ini juga berubah menjadi media curahan sesaknya hati yang menyadari bahwa ada suatu perubahan yang menyakitkan. Yakni ketika pertemuan berubah menjadi perpisahan.

Ya Allah, aku berstukur bisa bersekolah di sini. Aku dididik untuk bisa survive dalam perkembangan zaman dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, aku juga harus mengedepankan iman dan taqwa sebagai landasan hidupku.  Selain itu, aku dituntut untuk bisa mengaktualisasikan ilmu yang kudapat dan berkontribusi bagi masyarakat.

Ya Allah, sungguh indah mengenang tahun pertama di sekolah ini. Aku belajar mengikuti budaya baru. Aku belajar memahami betapa sulitnya persaingan. Aku belajar menjadi bagian dari sebuah entitas. Semoga semua itu mengasahku untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Terkadang aku merindukan ayah dan bunda di rumah. Engkau pasti sering mendengar doa mereka untukku. Ya Allah, walaupun tak pernah mengungkapakan, aku sungguh menyayangi mereka. Kumohon sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku sejak kecil.

Tahun kedua memberikan tantangan yang berbeda dan tentunya lebuh berat untukku. Aku mulai mengemban amanah besar. Aku harus pandai membagi waktu. Di satu sisi aku harus mempertahankan kondisi akademikku yang mulai tersengal, di sisi lain aku harus bertanggung jawab untuk menggerakkan roda organisasi. Bahkan, aku juga harus berjuang untuk mengharumkan nama almamater di kancah dunia pendidikah nasional.

Ya Allah, maafkanlah aku. Terkadang semua kesibukan ini membuatku lupa untuk selalu bertawakkal kepada-Mu. Semestinya aku menemui-Mu di waktu dhuha yang begitu berharga. Seharusnya aku bersimpuh pada sepertiga malam yang Kau janjikan itu. Atau setidaknya sekedar  menghabiskan waktu di ‘rumah’-Mu dan mendekatkan diri pada-Mu, melebihi dekatnya urat nadi pada leher.

Ya Allah, di sini aku mulai mengenal suatu perasaan yang menggelitik hati. Entah apa itu namanya. Tolong jangan salahkan aku atas ketentuan-Mu ini. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Senyumnya menyejukkan hati. Sapanya menggugurkan setiap kekecewaan.  Entah bagaimana aku harus menyikapinya. Kubiarkan semuanya terkubur dalam kesibukan rutinitas. Aku takut ia tak menginginkan persaanku. Aku juga takut akan karma-Mu.

Tahun ketiga merupakan tahun terakhir. Namun justru inilah saat aku mempersiapkan awal kehidupanku yang baru. Aku berusaha fokus untuk mecapai target yang kuinginkan, mencoba mencari batu batu loncatan untuk menggapai mimpi. Tak peduli berapa kalipun kujatuh.

Ya Allah, aku semakin dekat dengan garis finish jenjang akademik. Waktu bergulir begitu cepat. Semua berpikir, “Bukankah baru kemarin kita memasuki gerbag sekolah ini?” Aku mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pelajaran dalam tiga tahun ini. Entah apa yang telah aku berikan sebagai bentuk balas jasa. Ya Allah, maafkan aku atas seluruh waktu yang terlewat, atas semua kesempatan yang tersiakan, dan atas semua keadilan-Mu yang terkadang tak sepenuhnya kumengerti.

Ya Allah, aku sudah siap untuk mengalungi medali kelulusan. Tapi aku belum siap untuk kata perpisahan. Aku sangat bersyukur kau memberiku teman-teman yang begitu baik. Mereka tersenyum untuk mengapresiasiku. Mereka membantuku berdiri ketika jatuh. Merekalah yang membuat kain kavasku berwarna. Entah bagaimana aku bisa mengahadapi pahitnya kehidupan tanpa mereka. Tapi kehidupan harus tetap berlanjut, apapun bentuknya.

Ya Allah, aku sedih harus meninggalkan lukisan indah itu. Kumohon rawatlah ia. Hilangkan setiap bercak nodanya. Jangan biarkan ia lapuk ditelan masa. Kuharap lukisan itu memberi inspirasi bagi tiap mata yang memandang, menyejukkan hati bagi yang mengamatinya, serta memotivasi orang lain untuk membuat lukisan indah lainnya. Semoga kombinasi warnanya akan tergoreskan kembali di tembok surga-Mu nanti. Amin.

Mungkin sedikit konyol, tapi aku menulis surat ini dengan tulus. Entah berapakali aku menyeka ujung mataku. Dengan segala kehinaanku, secara fisik, surat ini mungkin tak akan sampai pada-Mu. Tapi aku yakin engkau lebih mengetahui apa isi hatiku.

Engkau pasti mendengarku....

di tengah gelapnya malam, 30 Mei 2012

hamba-Mu yang lemah

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu