Posts

Menemukan Kehilangan

Image
Aku dan kamu adalah kebetulan-kebetulan yang dipertemukan.
Sedangkan 'kita' adalah kemauan-kemauan yang diperjuangkan.

Sampai pada persimpangan itu, kau masih membawa dirimu dengan cara yang sama, yakni sebagai niat baik, yang tak bergerak di antara pertemuan dan perjuangan. 
Kau mendekat untuk memotong separuh jarak. Namun setengahlipatan, berapa kalipun, tak akan pernah menyatukan kita di titik yang sama. 

***
Mari kuantarkan pada perjalananku sebagai air yang jatuh di antara milyaran bulir hujan. Bersama yang lain, kubertamu pada bumi untuk menggenapi sebuah peran. Entah diantar guntur atau badai, sejatinya aku tak punya daya selain turun perlahan.

Aku tak terlalu memahami bagaimana dunia bekerja dan tak juga bisa melawannya, selain ikut mengalir meniti hilir. Menemukanmu di ujung muara adalah jalan langit yang diterjemahkan pada liuk-liuk sungai. Dari pertemuan itu kupahami definisi lain dari 'terjatuh'.

Denganmu aku tidak pernah mempertanyakan ke mana arus membawa. Satu …

Dongeng Kemiskinan

Image
Mari kuperkenalkan pada seorang bocah yang sering kutemui di jembatan penyeberangan. Namanya Topan dan ia bercita-cita menjadi kaya setelah melihatku menenteng nasi bungkus. Baginya, sesuap nasi adalah jawaban doa dari Tuhan.

Dari hari ke hari ia menjajakan tisu, minuman, atau entah apapun yang bisa bisa ia tukarkan dengan rupiah. Selain nama yang ia karang sendiri, nominal uang adalah satu-satunya tulisan yang bisa ia baca.

Wajahnya begitu lusuh. Garis kemiskinan melengkung dari ujung alis hingga tatapannya pada masa depan. Esok adalah istilah yang valid dieja bila hari ini perutnya terisi. Karenanya, ia tak pernah membuat janji. Setidaknya dengan begitu tidak ada yang pernah ia ingkari.
Di bawah garis itu, dua puluh lima juta orang berteduh, atau lebih tepatnya terperangkap. Kita tak pernah merasa heran bahwa mereka berwarna kulit yang sama, tapi tak pernah dianggap setara. Kita sadar tapi hanya bisa menyuruh mereka bersabar. 

Kemiskinan ditatap dengan teropong analisis dari menara gadi…

5 Tempat Terbaik untuk Bersedih

Image
Jempolku berguling pagi ini di atas layar gawai. 
Ia terhenti pada sebuat kicau yang memamerkan "5 tempat terbaik untuk bersedih."
Kicau-kicau ini tak berbunyi tapi selalu saja penging mengusik.
Mereka seharusnya belajar bahwa air mata bukan komoditas untuk dibingkai pada linimasa.
Tidak ada orang yang membenturkan kepalanya pada tembok untuk sekadar membuat kegaduhan. 
Terkadang sengguk berbentuk getar untuk didengar, tapi ia tak pernah berupa binar lentera yang dipajang untuk menarik perhatian. 
Kalaupun kesedihan adalah gelombang cahaya, ia adalah lilin yang berpendar dengan kerentanannya.
Hindarkan angin hasut berhembus, atau aku akan lupa mana yang lebih dulu padam: nyala api atau tekadku untuk beranjak dari keputusasaan.

Hati terluka dengan gores yang tak sama.
Tidak pernah ada preskripsi yang dibuat untuk menyenangkan semua.
Sudah seharusnya mereka berhenti menetapkan standar atas bagaimana memeluk kesedihan.
dan aku punya caraku sendiri.

Aku bersedih dengan terkulai. 
di atas dip…

"Baik Baik Saja"

Image
Adakah orang yang dengan tulus menanyakan kabar? 
yang menganggap keberadaanku berarti dan apa yang terjadi padaku bukan sekadar cuap sambil lalu.
yang karenanya tak perlu kupalsukan "baik-baik saja" untuk mengubur kegelisahan. 
Tapi bahasa basa-basi sepertinya terdengar lebih manusiawi dan aku tak punya insentif untuk memamerkan kelamnya hari.

Depresi itu nyata dan aku terjatuh ke dalamnya. 
Setiap pagi aku merasa seperti berada di mimpi buruk berkelanjutan yang menjadikanku ragu apakah aku sudah terjaga.
Entah bagaimana matahari membagikan sinarnya, kulihat langit dan awan bak lukisan dengan kombinasi cat kelabu.
Ingin kukembali tidur tapi memejamkan mata berarti melihat ingatan yang seharusnya kulupakan.

Depresi itu seperti kamar yang menjebakku dengan perasaan pilu yang konstan.
Ada satu jendela namun ia berwujud kiasan.
Ada satu pintu namun ia tak menerima ketukan.
Tak ada selot untuk ditarik, tak ada gagang untuk diputar.
Ingin kuhantam pecah namun kusadari justru aku yang sudah r…

Merelakan Perbedaan

Image
Aku penasaran apakah sejatinya kamu dan cinta adalah hal yang sama. 
Aku menatapmu dengan penuh kesadaran bahwa kita tak sedang bercermin. 
Aku dan kamu digariskan dengan pena nasab yang berbeda. 
Kepada parasmu aku bunar, kepada kelasmu aku menjinjit, dan kepada semua yang kau sembunyikan di belakangmu aku menengadah. 
Maka jangan salahkan aku yang pernah menyalahartikan sapa.

Dengan ringan kau bilang perbedaan adalah hal yang layak dirayakan. 
Bahwa pelangi yang dicetak pada lembar monokrom adalah pemandangan yang membosankan. 
Kau tawarkan pewarna dan aku kemudian luluh menelan senyummu yang sepertinya tulus menyetarakan derajat. 
Karenanya, dari sudut kekerdilan, kulirihkan "hai juga" yang pernah tertunda. 
Sebuah respons yang nantinya kusesalkan.

Aku memasuki duniamu dengan langkah perlahan. 
Tak ada kubangan atau jalan licin tapi tetap saja aku takut terjatuh. 
Denganmu yang berjalan seiringan, saat itu aku menjelma tangan yang ingin digenggam. 
Sementara kau tawarkan lebih dari se…

Laksana Hujan

Image
Entah untuk keberapa kalinya, sajak ini bicara soal hujan dan rasa. Habis bagaimana, keduanya melekat dalam wujud yang satu dan barangkali hidupku memang melulu soal itu. Tapi khusus kali ini, keduanya tertulis sebagai teman di penghujung Oktober.
Perasaan datang seperti hujan. Ia memenuhi tugasnya untuk hadir sebagai takdir, yang menjelma dalam bentuk kebetulan-kebetulan. Kau boleh duga, boleh juga tidak.
Perasaan jatuh seperti hujan. Dengan tulus ia terjun tanpa niat mengganggu, apalagi menyakiti. Hanya saja waktu dan keadaan yang terkadang menjadikannya salah. Kau boleh kesal, boleh juga tidak.
Perasaaan membelai lembut seperti hujan. Tapi kau harus terima konsekuensi bahwa ia membuatmu basah, dan boleh jadi kau akan lelah menyeka. Kau boleh berteduh, boleh juga tidak.
Hujan turun dari langit tanpa mengharap bumi akan membalasnya. Kemudian menanyakan kepadamu masihkah menuntut terbalasnya rasa. Lewat keikhlasan, ia saksikan bahwa akan ada masa saat butir-butir air kembali ke langit, d…

Berhentilah Berbaik Hati

Image
Berhentilah berbaik hati, karena ada jiwa yang salah memahami. Kepedulianmu barangkali murni, tapi hati bukanlah setir yang mudah dikemudi. Bagi sebagian orang, menjatuhkan rasa bukan sebuah pilihan, melainkan gaung yang bersambut pada denting bunyi.
Semua dimulai dari tegur sapa, yang sedikit di antaranya senyummu tersangkut manja. Dering obrolan daring silih berganti merambat di alam maya. Entah lugu atau malu, wajah itu tersipu di depan layar gawai. Orang yang kasmaran kadang tampak menggelikan, apalagi bila sudah jauh terbuai.
Bagimu episode sore itu sekadar membunuh waktu dengan semerbak wangi secangkir kopi. Tapi di seberangmu ada sosok yang menikmati suasana dengan sedikit terlena. Ia merasa di serambi surga bersama bidadari dengan rupa tanpa cela.
Selanjutnya bunga mimpi tayangkan drama klise yang seolah mengamini imajinasi. Hingga pada suatu waktu ada benih yang tertanam. Setelah ia tumbuh dan berbunga, kau enggan petik buahnya.
Tentu saja kau bilang tak ada maksud buruk. Baikmu…