Posts

Pulang

Image
Aku telah berjalan cukup lama untuk pada akhirnya tersadarkan, bahwa jarak yang terbentang dariku dan rumah adalah rindu yang terpilin perlahan. Semakin jauh kulanjutkan semakin besar buncah tertahan. Hasrat yang dulu mendorongku pergi kini mengingatkankanku bahwa pulang adalah ujung setiap perjalanan.
Beruntungnya, pulang tak menyaratkan kaki untuk bertolak balik menyusuri jejak yang telah dipijak. Justru perjalanan mengajarkan bahwa ia adalah proses menemukan arah menuju pemahaman baru akan makna kampung halaman. Yang dulu boleh jadi tak lagi menunggu dan yang tertinggal boleh jadi tak lagi layak tinggal.

Aku ingin pulang tapi bukan rumah yang kutemukan. Ketuk pintu bertaut sambut, namun kehangatan bukan seni untuk dipura-purakan. Jajan tersuguh cangkir tersaji, namun bukan gula yang memaniskan sapa. Ratusan pertemuan yang sekadar berujung pertamuan menjadikanku merasa seakan tersesat dalam pencarian.

Pada suatu persinggahan di kabin kayu, kurentangkan kusut kelelahan yang membelit kak…

Ujung Rasionalitas Cinta

Image
Ujung rasionalitas cinta: antara “Kamu yang terbaik untukku” dan “Aku nerima kamu apa adanya”
Dua kalimat tersebut kerap dijadiin ungkapan yang bukan hanya untuk meluluhkan hati si dia tapi juga sebagai standar yang digunakan untuk mengarahkan hati kita sendiri.
Kali ini saya ingin membahas dua kalimat tersebut bukan sebagai gombalan, melainkan renungan atas keputusan pilihan, tentunya dari perspektif sedikit ilmu yang pernah saya pelajari: mikroekonomi.
Dari SMA sampai kuliah saya didoktrin bahwa ilmu ekonomi merupakan ilmu tentang memilih. Adapun landasan paling dasar dalam konsep pilihan adalah rasionalitas. Dengannya kita diprediksi bisa mendapatkan hasil keluaran yang optimal.
Lantas terkait hati, sudah optimalkah pilihan kita…? Tunggu, sebelum ke situ, ada pertanyaan mendasar yang lebih perlu ditanyakan. Sudahkah kita memilih secara rasional?
Sadar atau tidak, pada dasarnya kita memilih berdasarkan alternatif dan kriteria dengan proses yang tidak terlalu rumit. 1) Susun alternatif …

Game Theory dan Perselingkuhan

Image
Perselingkugan dalam Perspektif Dynamic Game Theory: Antara Dusta dan Cinta


Saat hubungan mulai jenuh, mungkinkah salah satu pasangan berselingkuh? Kalopun iya, hubungan bagamana hubungan tersebut bisa terus bertahan? Game Theory bisa menjadi alat yang unik untuk bahas kasus ini.
Mari kita misalkan pasangan (A dan B) berada pada titik di mana masing masing bosan. Tidak hanya mereka mulai melirik orang lain, tapi mereka juga mencurigai pasangannya sendiri. Masing masing punya pilihan untuk tetap cinta (C) atau malah dusta (D) alias selingkuh. Konsekuensi atas pilihan tersebut menetukan kebahagiaan yang diwakili oleh matriks payoff berikut. Kalau dua-duanya cinta (C,C), masing-masing mendapatkan 5. Kalau salah satu dusta (D,C)/(D,C), yang dusta mendapatkan 7 dan yang dihianati mendapat 0. Kalau sama-sama dusta (D,D), masing-masing hanya mendapatkan 2. Kesimpulan preferensinya mengikuti order berikut: selingkuh-dicintai (7) > sama-sama cinta (5) > selingkuh-diselingkuhi (2) > disel…

Senyap

Image
Aku menyukai caramu membiarkanku mengabaikanmu malam itu. Dari situ kupahami dunia kita tak dijembatani aksara. Kita bersapa melalui tatap rela.
Jemariku mengetuk meja sedangkan kau menyibukkan garpu dengan serpihan sisa pasta. Barisan narasi yang tersiapkan sedari sore telah tertelan. Aku dan kau menyetujui bahwa mata dan raut muka pun bisa bicara, dengan interpretasi yang boleh jadi tidak sama.
Kita pernah beresonansi pada getar perasaan yang senada. Ketuk demi ketuk membawa kita saling mengangguk. Lantun harmoni menggoda kaki untuk berhentak dan menari, lupa bahwa malam tawarkan gemerlap dengan garis langit di ujungnya.
Kini kita adalah detak jantung yang tak lagi terdengar familiar. Kita lupa pada udara yang pernah terhirup dan membiarkannya terhembus bersama angin musim gugur yang dingin. Namun barangkali itu cara terbaik untuk bernafas.

Kuperhatikan wajahku dengan lekat dari pantulan bola matamu dan kuyakini tak ada gurat penyesalan. Begitu pula mataku merekam. Aku dan kau menyepaka…

Rembulan Malam Ini

Image
Senja menyapamu lebih dulu, mewakili keinginanku untuk menyambutmu pulang. Kau bilang warnanya menenangkan. Bagiku kabarmu yang justru menenangkan.
Rembulan mendatangimu lebih dulu dan aku senang denganmu yang antusias menceritakan bagaimana ia muncul kali ini. Ceritamu melipat jarak seakan kita berada di belahan bumi yang sama.
Malammu gemerlap bintang sementara siangku beratapkan awan. Gelap ataupun terang, ia dilukis sebagai penanda sekaligus pengingat, bahwa kita berada di bawah langit yang sama.
Hujan tak ke mana-mana, setidaknya untuk hari ini. Ia di sini menemaniku merayakan kesepian, menampung gundah pada kubangan gelebah. Boleh jadi suatu saat ia menghampirimu untuk antarkan pesan.
Rindu akan mencari caranya sendiri untuk bisa tersampaikan. Ia titipkan pada alam. Ia lewatkan pada kekuatan yang tersamarkan. Adakah sedikit getar kau rasakan?



Rode kruislaan, 26/09/18

Luka

Image
Dari sekian banyak cara terluka, kupilih jatuh cinta. Barangkali tak kupahami bagaimana perasaan bekerja. Tapi aku masih muda.
Dari sekian banyak cara tersakiti, kupilih jatuh hati. Tak seharusnya pemula bermain main dengan ekspektasi. Tapi aku masih sanggup berdiri.
Aku menaruh kepercayaan sedalam palung, sebagaimana kupastikan diri untuk masuk ke dalamnya. Namun di antara tenggelam atau menyelam, aku tak punya daya untuk memilih. Biarlah arus membawaku.
Tak perlu kau ingatkan nafas kepada aku yang sudah terjun. Kugadaikan paru-paru untuk menghirup perhatian. Kutumbuhkan insang dari relung harapan untuk mencari gelembung kasih. Semoga yang kualami tak lebih dari sekadar tersedak.
Aku bersiap dengan kekolotan dan kepolosan, bahwa ketulusan akan membawa kedamaian, baik dalam wujud syukur atau ikhlas. Walaupun keduanya tampak sama, mereka terjeda realita yang sangat memberatkan.
Kudiamkan malam sebagaimana ia tak izinkan mataku terpejam.Denganmu yang entah bagian dari sebab atau akibat, sem…

Masih Sama

Image
Lesung pipimu masih sama, begitu pula dengan caraku mencuri pandang. Jika kuperhatikan dengan seksama, di ujung busur senyum, tersemat cekung tempatku menitip kagum. Adakah perasaan ini menjadi ranum?
Selama ini aku menyimpan wajahmu. Kadang di sudut beranda malam. Kadang di lempitan kabut kesepian. Sengaja tidak kubingkai, sebab kuingin ia menyatu bersama latar rindu. Secara samar menjadi siluet di relung kalbu.
Corak matamu masih sama, begitu pula dengan sipu maluku di balik temu tatap. Beruntung aku menjaga jarak. Kutakut lensamu menangkap aku yang bak kepiting rebus. Kutakut kau dengar dadaku yang terlalu gaduh.
Ada di persimpangan lorong gebu, ada di salah satu bilik ragu. Aku tak membiarkanmu hilang. Namun tak juga kupupuk untuk berkembang. Entah kau berada di kediaman pulang atau sekedar rumah singgah untuk dikenang.
Degup gaguku masih sama, begitu pula dengan ketidakpekaanmu, begitu pula dengan kepengecutanku. Atau mungkin sebaliknya. Kita terjebak pada ketakutan untuk melangkah. …