Tuesday, 22 August 2017

Menyapa Manggarai Pagi





Aku sudah terjaga saat malam enggan pergi. Kucari secercah cahaya untuk sekadar menatap wajah polos itu. Kau masih terpejam.

Kecup sederhana pada kening yang mungkin tak kau sadari menjadi salam perpisahan, serta ungkap penyesalan, karena kita terpaksa berbagi potongan mentari yang berbeda.

Menyapa Manggarai pagi, gerbong kereta membawa mereka meniti jalur rejeki. Dijejalkannya tulang punggung pada himpitan harapan, bahwa selama masih dapat menjejakkan kaki, mereka tak akan berhenti.

Aku berada di sela-sela ketiak dari lengan yang menggantungkan asa. Setel pakaian yang disetrika buru-buru itu kini harus berbagi kusut. Tak peduli warna kerah baju, di kubik besi ini kita mengadu nasib yang sama.

Menggugah keramaian ibu kota, beton-beton penyangga ekonomi menjadi saksi, bahwa mereka menggulirkan roda penghidupan dengan jerih masing-masing. Satu memikul satu menjinjing, mereka sama-sama mengangkut nominal.

Antara peluh keringat dan sesuap nasi, terselip niat kerja ilahi. Dapur boleh mengepul pekat, namun hidup harus tetap pada hakikat. Di tanah tempat semua berebut, banyak orang memasang sikut.

Saat hari telah tertekuk, senja merekam penat wajah mereka. Dari mata yang mengganjal lelap, disisakannya tenaga untuk kembali pulang ke tempat yang mereka sebut rumah, entah apapun bentuknya.

Setibanya aku di depan pintu yang kau ganjal dengan penantian, kudapati lampu bilik telah meredup. Dengan getir penyesalan yang sama, aku mengecup keningmu lagi.




Cikini, 21/08/17


gambar dari sini

Wednesday, 12 July 2017

Tuliskan




Aku telah lama pergi dan banyak yang terjadi. Memberitahumu aku telah kembali adalah satu hal. Namun menceritakan apa yang telah terlewati adalah lain hal.

Aku bisu dan kamu tak bisa diam. Lidahku kelu tapi kupingmu gatal. “Tuliskan saja kalau begitu”, katamu.

Di antara jeda pertemuan ini, hanya kamu yang tak pernah menyerah untuk tanyakan kabar. Hanya kamu yang benar-benar memaknai ‘sampai jumpa’.

Kau pernah ajak aku bicara dengan cerita hujan dan sekarang kau minta aku kisahkan dongeng senja. “Kisahkan layaknya itu cahaya terakhir sebelum malam menelan dingin”, tambahmu.

Aku bukan pujangga dan kau jelas tahu meracik bait roman bukan bakatku. “Kamu tak lupa bagaimana cara menggunakan pena, bukan?”, paksamu.

Terima kasih telah kembalikan aku pada kertas dan tinta. Terima kasih untuk sadarkan aku bahwa tulisan bisa menebar kehangatan langit. Serta terima kasih telah menjadi pembaca yang baik.

Terlepas dari semua itu, ada hal lain yang tak bisa kutuliskan namun mestinya kuungkapkan. Suatu saat kamu akan tahu.


tulungrejo, 27/6/17



gambar dari sini

Tuesday, 13 June 2017

Kisah Kita



Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu.

Antara Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak terkecuali bagi aku yang pernah menolak luluh.

Seringai malu menyemarai setiap kali kuingat betapa lugunya kita waktu itu. Kau tunjukkan rona senja namun yang kuperhatikan rekah merah yang lain. Kau lemparkan ‘sampai jumpa’ dan aku berharap malam terlipat hingga esok.

Antara Bekasi dan wajahmu yang pasi, kau sembunyikan kekecewaan seperti kura-kura yang meringkuk di balik kubangan.

Antara Bandung dan mendung, kau tinggalkan dua hal yang kubenci setelah hujan: genangan dan kenangan.

Sesekali kisah kita terkungkung sendu. Tapi kuputuskan untuk tak menyerah padamu. Jika kau perhatikan, lengkung senyum tak pernah lurus. Kebahagiaan seringkali dimaknai setelah kita merangkak pupus.

Aku sang pendongeng, ceritakan tapak-tapakyang pernah kita lalui. Dari satu titik ke titik lain terbentuk garis. Pada pemberhentian ini, telah tampak sketsa wajah kita yang saling berhadapan. Barangkali sudah saatnya untuk memberi warna.

Antara kamu dan diamku, kuhimpun semua keberanian yang tertimbun ragu, hingga kutekadkan untuk maju.

Antara aku dan kediamanmu, bingung kumenyusun diksi untuk yakinkan bapakmu, agar ia relakan kita bersatu.



Salemba, 12/06/17


gambar dari sini

Tuesday, 18 April 2017

Di Sela-sela Hujan



Kau tinggalkan aku dengan hujan dan jendela, kombinasi yang tepat untuk menyangga sendu yang bertumpu di antara tangan dan dagu. Penat terasa pada kehidupanku yang terbingkai bilah kayu persegi, sementara naluriku menyeret paksa untuk pergi.

Yang kuusap bukan raut yang wajah terlanjur sembab, tapi bilah kaca yang buram melembab. Dari sudut kamar ini, pandanganku menyapu taman yang terselimut basah. Di situ air mengalir untuk hembus kehidupan, bukan bersumber dari kepedihan.

Jika kebahagiaan tak bisa kucari di dalam sesaknya hati, akankah ruang di luar sana memberi kesempatan yang lebih berarti? Angin dingin enggan membawa pertanyaanku, kuputuskan untuk melangkah keluar demi sebuah jawab.

Apa yang kucari di sela-sela hujan adalah kebijaksanaan yang merampungkan bait-bait sajakku, yang menerjemahkan sepi dari riuhnya guntur, yang menunjukkan cercah cahaya dibalik mendung.

Sayangnya langit hanya tandakan isyarat, tanpa beri petunjuk akurat. Lantas bagaimana aku tahu hujan mana yang bisa janjikan pelangi.

Seperti bianglala, perasaanku hanya berputar tanpa beranjak. Aku bergerak pada poros keyakinan yang berselaras pada jiwamu. Maka saat langit turunkan milyaran butir air, aku hanya bisa pasrah dan basah. Karena berteduh tanpamu bukanlah pilihan.



Bandung, 18/04/17

gambar dari sini

Saturday, 4 March 2017

Hidung Mungil



Aku merindukan bibir tipismu, saat kau jepitkan di antara gigi taring. Terlepas itu kebiasanmu untuk membalas kata yang salah ucap, aku menikmati senyum yang terkembang tanpa sengaja karenanya.

Aku merindukan hidung mungilmu, yang biasa kau garuk walau tak merasa gatal. Dengan begitu kau hilangkan kekakuan sekaligus tanda yang memaksaku untuk memulai percakapan.

Tak perlu kau hitung detik yang berlalu untuk tanyakan kapan aku merindu, sebab waktuku terhempit sesak dengan kepergianmu.

Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.

Aku merindukan sapa yang kau lempar dengan canggung, saat aku menoleh pada tatapanmu yang hilang, saat aku mencari rona malu yang kau sembunyikan.

Aku merindukan gerutumu pada langit yang terus turunkan hujan, saat aku berharap kita bisa berteduh seharian, saat aku bisa tawarkan peluk untukmu yang kedinginan.

Tak perlu kau hitung depa yang terlewat untuk tanyakan di mana aku merindu, sebab jarak tak pernah menjamin aku bisa meraihmu.

Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.

Aku merindukan kernyit dahimu, beserta ekspresi penasaran yang membuatku rela menyimpan jawaban selama mungkin atas keingintahuanmu. Sementara aku mengalihkan pandangan ke sudut langit-langit


Aku merindukan jari-jemarimu, saat mereka mainkan pena dengan lincahnya. Adakah aku dalam benakmu saat kau mulai merasa bosan?


kapuk, 04/03/17







gambar dari sini
terinspirasi dari Small hands, keaton henson