Posts

Teman Senja

Image
Dalam adegan senja, aku bocah pukul enam sore yang menanti gelap. Dengan kerut ketidakmengertian, kupertanyakan siapa yang lebih dulu hilang, bayanganku atau sisa cahaya di ujung sana.
“Aku sudah datang, mengapa tanyakan yang hilang?” “Setiap yang datang pasti akan pulang, bukan?” “Setiap orang bisa mengubah tempat pulangnya.” “Tidakkah kau rindu rumah?” “Rumah adalah tempat yang tak bisa kita tinggalkan tanpa kehilangan separuh hati” “lalu?” “Kau tahu di mana aku telah menaruh separuh hati itu.” “Mungkin. Tapi bongkah separuh hanya indah untuk rembulan. Aku berikan penuh.” “Kalau sudah satu, boleh aku genapkan?” “…”

 “Hentikan senyummu. Aku malu.” “Tidak apa-apa, dengan begini aku bisa melihat rona senja dua kali.” “Kukira kau lebih tertawan pada rembulan.” “Walau aku harus menunggu dua pekan untuk senyum sabit rembulan, ada lengkung yang lebih kurindukan.” “…”




Tarempa, 11/05/18
gambar dari sini

Terus Melangkah

Image
Kutanyakan pada kakiku yang sudah tampak lelah, sampai manakah harus melangkah?Jejak-jejak mungil itu telah panjang mengekor, beriringan dengan sepasang yang serupa.
Sepatu mungilmu datang di ujung musim gugur tahun lalu. Sembari menjinjit kau sejajarkan pundak kita untuk sampaikan sepotong pesan ke telingaku. Aku mengangguk dan tersipu, membiarkan wajahku mengalahkan marunnya serakan daun Momiji yang sedang kita injak.
Dari pertemuan itu, kudapati sosok yang membersamai untuk menyemai tapak sepanjang perjalanan. Aku tidak lagi menoleh pada ruang hampa saat sejenak mengusap peluh di dagu. Kuucapkan selamat tinggal pada pohon oak tempat ku biasa menyandarkan punggung dan bergumam.
Sesekali kita mengendus bau keraguan, bukan atas ketidakmampuan menjaga apa yang kita yakini, namun pada ketakutan yang ditawan waktu. Beruntungnya, ketidakberdaayan membuat kita bergantung pada prasangka baik atas doa yang tak pernah putus.
Sekian musim terlewat, didepanku kau pasang senyum yang tak pernah terl…

Doa yang membosankan

Image
Aku penasaran bagaimana Tuhan membalas jutaan doa yang dikirimkan hamba-Nya setiap waktu.
Jika doa adalah sekuncup pinta, akankah Ia siramkan kemurahan agar mereka tercukupi dengan segala keinginan.  Jika doa adalah sejumput tanya, akankah Ia taburkan kebijaksanaan agar mereka terpuas dari ketidakmengertian.
Mereka bilang doa menjembatani getar ruhani antara abdi dan ilahi, bahwa jarak antara angan dan kejadian terjeda sejauh kening dan tempat bersujud. Maka sudah sepatutnya kupasrahkan seluruh ketidakberdayaan kepada sang pemilik kuasa.
Jika doa adalah sejuntai harap, akankah Ia salurkan kasih sayang untuk lengkapi apa yang sedang ditambat.  Jika doa adalah setangkup syukur, akankah ia guyurkan nikmat berkali lipat atas apa yang telah didapat.
Mereka bilang doa adalah alat yang menerjemahkan bahasa pengandaian pada ukir kenyataan. Boleh jadi ijabah tak serupa dengan hajat, namun tetap dipahat dalam wujud terbaik. Maka tak seharusnya kuajukan tuntutan yang mengundang kekecewaan.
***
Tidakkah…

Rindu Kemarin Sore

Image
Jika angin mengetuk jendela kamarmu semalam, jangan khawatir. Itu rinduku kemarin sore. Jika langit menyapamu hangat pagi ini, jangan abaikan. Itu doaku sebelum fajar.
***
Aku menghitung detik yang terlewat, kemudian menyesali hari yang berganti tanpa ada kemajuan. sayangnya waktu tak bisa disalahkan. Ia bergerak dengan jalannya yang konstan dan memaksaku menyadari bahwa telah begitu lama aku menunggu; atau membuatmu menunggu.
Barangkali mereka benar, aku pengecut yang hanya berdalih di balik alasan ‘saat yang tepat’. Aku menatap esok sebagaimana kemarin. Masa depan tak pernah menjanjikan apa-apa, namun aku berharap layaknya tanganku akan merengkuhnya. Atau barangkali, telah ada yang menuliskannya.
Di antara jarak yang direntangkan untuk menjaga, rindu marun jatuh dari tangkainya. Sudikah kamu lembut memungutnya? Di jeda sapa yang ditangguhkan untuk melindungi, doa menjembatani ketulusan hati. Adakah kamu di seberang sana sedang menanti?
Entah sampai kapan aku membiarkan kita berdiri di te…

Sandiwara

Image
Tak ada aku di esokmu, sebagaimana kau hilang dari hariku yang berlalu.Sapa kemarin sore kita lontarkan hanya untuk kemudian beradu punggung. Lantas mengapa saat itu kita masih bersandiwara?
Di antara mereka yang bersembunyi di balik rias, kau pilih bersembunyi di balik senyum. Matamu sembab namun tak tega untuk berlinang. Aku bingung menerjemahkannya isyarat tanpa panduan makrifat.
Ceriamu menarik simpul tawa, namun setelahnya adalah hampa. Candamu berbubuh candu, sayangnya itu membawa pilu. Kita menjalani kepura-puraan yang sedari awal telah diduga.
Sampai pada titik di mana mata tak lagi beradu, kita hanya tertunduk menatap kaki yang telah lelah berjalan. Sia-siakah langkah yang telah terjejak?
Yang kutahu kita sama-sama terluka.
Aku berdarah tanpa bercak merah. Aku cedera tanpa gores menganga. Dengan lebam yang tertahan gumam, aku terjatuh bersama tubuh yang rapuh.
Tak adakah lenganmu tawarkan genggaman?




gambar dari sini
Jetis, 02/01/17

Sapa

Image
Di ujung kata-kata yang telah disusun bersama, kita bingung menyematkan titik atau koma. Sementara masing-masing masih menyimpan tanda tanya.
Kita dara muda, yang bermain-main dengan rasa percaya. Tak memahami bahwa ada konsekuensi dari condongnya hati.
Harapan itu telah dilontarkan terlalu tinggi, sementara aku tak belajar bersahabat dengan langit. Kita terbang terlalu nyaman, tak sadar bahwa selain hembus, angin juga membawa hempas.
Di hari kita berbagi senja, kita berbisik agar tak ada yang benar-benar tenggelam. Namun perputaran bumi membawa cerita kita ke warna langit yang lain. 
Mentari esok hari menjanjikan kehangatan baru, namun barangkali kita terlalu takut lewati gelap malam.
***
Ke dalam sungai Siak, yang mereka bilang bukit pun tertelan, kucoba tenggelamkan perasaan itu dalam-dalam.Sekaligus ingin kuuji sebuah nasihat bijak, bahwa hati yang ringan akan mengapung tuk kemudian mencari muaranya.
Batin menggunyam diksi, jiwa menyulam aksara. Padahal aku hanya ingin menyapa.
Adakah di…

Memeluk Rindu

Image
Barangkali khilaf membawaku lupa bahwa Tuhan yang memainkan lakon semua bidak. Intervensi manusiawi tak bisa menyangkal bahwa Ia sang pembolak-balik hati. Maka ke mana lagi mesti pergi kalau bukan kembali.
Sepertinya ilusi menyeretku pada gawal bahwa aku mampu berbuat sesuatu. Sementara semesta kejadian telah digoreskan pada kitab yang terpelihara. Aku tersesat pada peta dengan legenda yang salah terbaca.
Pergi sejatinya bukan soal tergesa beranjak, apalagi berlari. Ketenangan diri didapat penerimaan atas ketidakmengertian pada keadilan langit.
Sembari menghela nafas, sisipkan perjalanan dengan prasangka baik-Nya. Tapak melangkah terbuka dari cara menekuk lutut dan mendekap subuh.
Aku lelah dengan kebingungan mencari arah. Di antara wajah dan tempat berpasrah, kuharap bertemu pengertian dari tanya yang sedari dulu kudesah.
Sedekap lengan di ulu hati, harap dipanjat enggan dinanti.
Tersungkur kening di sudut sujud, biarlah sampai niat dimaksud.
Teriring air menyejuk dagu, beginilah aku memel…