Posts

Laksana Hujan

Image
Entah untuk keberapa kalinya, sajak ini bicara soal hujan dan rasa. Habis bagaimana, keduanya melekat dalam wujud yang satu dan barangkali hidupku memang melulu soal itu. Tapi khusus kali ini, keduanya tertulis sebagai teman di penghujung Oktober.
Perasaan datang seperti hujan. Ia memenuhi tugasnya untuk hadir sebagai takdir, yang menjelma dalam bentuk kebetulan-kebetulan. Kau boleh duga, boleh juga tidak.
Perasaan jatuh seperti hujan. Dengan tulus ia terjun tanpa niat mengganggu, apalagi menyakiti. Hanya saja waktu dan keadaan yang terkadang menjadikannya salah. Kau boleh kesal, boleh juga tidak.
Perasaaan membelai lembut seperti hujan. Tapi kau harus terima konsekuensi bahwa ia membuatmu basah, dan boleh jadi kau akan lelah menyeka. Kau boleh berteduh, boleh juga tidak.
Hujan turun dari langit tanpa mengharap bumi akan membalasnya. Kemudian menanyakan kepadamu masihkah menuntut terbalasnya rasa. Lewat keikhlasan, ia saksikan bahwa akan ada masa saat butir-butir air kembali ke langit, d…

Berhentilah Berbaik Hati

Image
Berhentilah berbaik hati, karena ada jiwa yang salah memahami. Kepedulianmu barangkali murni, tapi hati bukanlah setir yang mudah dikemudi. Bagi sebagian orang, menjatuhkan rasa bukan sebuah pilihan, melainkan gaung yang bersambut pada denting bunyi.
Semua dimulai dari tegur sapa, yang sedikit di antaranya senyummu tersangkut manja. Dering obrolan daring silih berganti merambat di alam maya. Entah lugu atau malu, wajah itu tersipu di depan layar gawai. Orang yang kasmaran kadang tampak menggelikan, apalagi bila sudah jauh terbuai.
Bagimu episode sore itu sekadar membunuh waktu dengan semerbak wangi secangkir kopi. Tapi di seberangmu ada sosok yang menikmati suasana dengan sedikit terlena. Ia merasa di serambi surga bersama bidadari dengan rupa tanpa cela.
Selanjutnya bunga mimpi tayangkan drama klise yang seolah mengamini imajinasi. Hingga pada suatu waktu ada benih yang tertanam. Setelah ia tumbuh dan berbunga, kau enggan petik buahnya.
Tentu saja kau bilang tak ada maksud buruk. Baikmu…

Cendera

Image
Selain adonan tanah, barangkali manusia dibentuk dengan campuran prasangka. Karenanya, kelima indra bekerja sebatas pada wujud rupa. Karenanya, ia tak punya kemampuan untuk memahami jantung yang berdetak di luar dada. Begitupula denganku yang meraba tanpa cahaya.
Aku tidak mengenalmu dan tidak pula tahu bagaimana kau mengenalku. Dengan segala ketidakpekaan, kususutkan setiap kemungkinan pada sudut kira-kira. Sebelum aku tergoda untuk mengintip bilik masa nanti, aku berhenti mencungkil bata pada tembok asumsi.
Imajinasiku terbakar mengabu sepanjang linting Djisamsoe. Pada kebul asap yang mengapung di langit-langit beranda, bayangmu tampakkan wajah yang lain dari biasa. Hembus angin membuyarkannya. Hembus harapan mengundang sejuta tanya.
Aku ingin tenggelam dalam tidur cendera kemudian bangun membuka mata dari kelopakmu. Dengan begitu aku bisa memahami kehidupan dari lensa pandanganmu. Lebih dari itu, aku bisa tahu di mana kau menaruh aku setelah lewat menyapa lembaran retina.
Dari matamu …

Bus Kota

Image
Perjalanan sore itu terasa lebih lama. Bukan karena bus kota sudah tua, tapi waktu seakan enggan merangkak maju. Semua kursi ramai terisi, namun yang duduk adalah patung sunyi.
Kuhitung rintik hujan yang manja merambat di permukaan jendela kaca. Pada tiap butirnya, kuberikan kesempatan ia untuk mewakili ekspresi kesedihan, yang mana air mata telah bosan membahasakan.
Mereka bilang waktu sembuhkan luka. Bahwa kekecewaan akan memudar perlahan dan pilu tersulam cerita baru. Sayangnya aku adalah seonggok bayang yang terjebak di suatu senja saat kau ucapkan sampai jumpa. Detik itu aku membatu kaku dan tak tahu cara menengok esok.
Mereka bilang hidup harus terus berlanjut. Bahwa roda akan berputar dan jalan terbuka lebar. Sayangnya aku berada pada poros kelam dan satu-satunya gerak adalah tenggelam.
Akal sehat ingin melupa, namun jiwa batin tersangkut masa lalu. Kucoba suarakan untuk menuang beban barang sejenak. Entah aku yang bisu atau mereka yang tuli. Jeritan hati tertelan sepi.
Mari kem…

Selamat Hari Lebaran

Image
Selamat hari lebaran. Selamat merayakan kemenangan. Untukmu yang berhasil memaafkan. Terlebih untukmu yang berhasil melupakan.




Den Haag, 05-06-19

Beranjak Dewasa

Image
Seorang bocah penggembala enggan meminum susu yang telah diperahnya. Ia tak ingin tumbuh dari perawakan kecilnya. Barangkali tak dipahaminya adalah waktu yang memaksa ia berangkat dari masa kanak. Tapi ada benar dalam pikirnya: beranjak dewasa itu kejam.
Beranjak dewasa adalah belajar berdamai dengan kekecewaan. Akan selalu ada hal hal yang diluar kendali, seberapapun keras asa diperjuangkan. Tanganmu diberi pilihan untuk usap derai tak berkesudahan atau berjabat tangan dengan kenangan.
Beranjak dewasa adalah belajar merelakan diri untuk tidak menuntut harapan. Akan selalu ada janji-janji yang menggantung di ujung kelingking, seberapapun besar kepercayaan ditanam. Saat itu kau akan berdoa untuk bisa melupa.
Beranjak dewasa adalah belajar bersilaturahmi dengan penyesuaian. Akan selalu ada kejutan-kejutan pahit, seberapapun siap rencana diperhitungkan. Kadang kau terpaksa kumpulkan kerikil kewarasan untuk menimbun lubang hati yang menganga.
Sang bocah ingin menua tanpa perlu bergelut denga…

Pura Pura (1)

Image
Aku pernah berpura pura menyukaimu dan kubiarkan terus begitu hingga aku lupa bahwa itu adalah kepura-puraan.
Kita tidak pernah terhubung dalam lingkaran yang kita pilih. Namun takdir membawa lingkaran itu menggelinding pada jalan yang beririsan dan di situlah kita dipertemukan. Kamu menyapa dan aku bingung harus bagaimana.
Dari “salam kenal” yang secara sangsi kutafsirkan, aku meragukan bagaimana bisa mengenalmu lebih dari sekadar tahu. Kamu adalah tatapan asing yang kutuliskan dalam guratan kernyit dahi. Kamu muncul dari ketidakmengertianku dalam menyikapi hal-hal yang sama sekali baru.
Namun tak sebaiknya terus begitu.
Atas prasangka baik, kubuka secuil kesempatan padamu dan kuharap kau tidak sekadar bertamu. Mereka bilang kebaikan adalah narasi yang berlaku umum dan tak boleh dimonopoli. Maka tak sebaiknya ku pilah-pilih dari mana ia berasal.
Terselip senyum dalam bincang ramah dan kamu tahu benar bagaimana membuatku hanyut dalam lautan kata. Terselip kehangatan dalam perhatian dan ka…