Posts

Memanjat Hujan

Image
Gemuruh mendung mengabarkan khalayak untuk diam sejenak. Tirau kelabu dijuntaikan, separuh cahaya tertawan. Satu demi satu, milyaran butir diturunkan. Di bawah kanopi, aku berteduh dan merenungi nasehatmu.
Terima kasih telah ingatkanku untuk tidak membenci hujan.

Sebab hujan bukan derap dingin yang menyambut gigil. Ia membelai bumi dan membawa janji kehidupan. Daun-daun yang bernafas memanggilnya bertamu, untuk kemudian sampaikan salam kepada awan saat ia kembali.
Langit merajut hujan menjadi selimut. Ujungnya menjangkau jemari kaki yang lusuh. Biarkan hujan memeluk, biarkan ia nyanyikan lagu pengantar tidur. Hujan adalah teman yang menuntun kita pada mimpi.
Tetes hujan adalah karunia yang tumpah dari telaga surga. Dibawanya kebermanfaatan bagi mereka yang mau menerima. Dari sana tumbuhlah penghijauan lengkap dengan buah kebijaksanaan.
Hujan mengajarkan kita cara berdamai, sebagaimana ia menjelma kubangan, sebagaimana ia merayap di jalanan. Biarkan hujan mengaburkan air mata, biarkan ia …

Muak

Image
Aku muak denganmu dan kau harus tau.
Aku muak dengan perasaan carut-marut saat menemukan wajahmu di tengah kerumunan. Sapa hangat mentari menjadi kesia-siaan dengan tawaran menu sarapanmu yang tak jauh-jauh dari kecemasan dan kegelisahan. Berhentilah mengumbar senyum kepalsuan yang syarat akan mau dan maksud.
Aku muak dengan tatapan rendah itu. Kita menginjak tanah yang sama dan berdarah dengan merah yang serupa. Strata sosial hanya tangga imaji yang dibuat agar kaum akar rumput tak beranjak dari dasar kehinaan. Ingin kupaksa kau menggunakan kacamata kuda secara vertikal agar punya sudut pandang manusiawi.
Aku muak dengan nyalimu yang kopong seperti kardus bekas. Kau hanya kucing jalanan di balik panggung tempatmu biasa memamerkan topeng singa. Pertunjukanmu telah usai dan penonton tak sabar menunggumu menutup korden. Kau tak perlu umbar kisah berburu sebab sebab parasit tak dihitung dalam kelompok pemangsa.
Aku muak dengan kuliah nirfaedah dari bibir berbusa itu. Aku tidak sedang dalam w…

Gincu

Image
Aku bingung bagaimana mesti memandang potret narsisme di dinding dinding generasi portal. Satu mata berkedip menjaring perhatian dan satu lagi melotot “lihat apa kau!”. Haruskah kukunci kelopak setiap kali bertemu topeng penuh gincu?
Baiklah, menjaga memang bukan tugas satu pihak. Namun sepatutnya kita mengenal kebijaksanaan lokal atas apa yang dianggap proporsional. Di sudut kota orang biasa mendendangkannya: yang sedang-sedang saja.
Terserah mereka sebut merah anggur atau jingga senja, yang layak dihargai dari bibir adalah ucap kejujuran. Entah apapun yang terpoles pada lesung pipi itu, yang perlu diperhatikan adalah ekspresi ketulusan.
Wajahmu, wajahku, wajahnya, semua diukir dalam bentuk masing-masing untuk saling mengenal. Maka tak perlu berlebih menabur kapur.
Mukaku, mukamu, mukanya, semua terpasang untuk tersungkur. Dahi tertunduk dan hidung mencium bau tanah. Lantas langit apa yang perlu ditatap silau?
***
Teruntuk kamu, terima kasih untuk menjadi apa adanya, saat sekelilingmu b…

Menyapa Manggarai Pagi

Image
Aku sudah terjaga saat malam enggan pergi. Kucari secercah cahaya untuk sekadar menatap wajah polos itu. Kau masih terpejam.
Kecup sederhana pada kening yang mungkin tak kau sadari menjadi salam perpisahan, serta ungkap penyesalan, karena kita terpaksa berbagi potongan mentari yang berbeda.
Menyapa Manggarai pagi, gerbong kereta membawa mereka meniti jalur rejeki. Dijejalkannya tulang punggung pada himpitan harapan, bahwa selama masih dapat menjejakkan kaki, mereka tak akan berhenti.
Aku berada di sela-sela ketiak dari lengan yang menggantungkan asa. Setel pakaian yang disetrika buru-buru itu kini harus berbagi kusut. Tak peduli warna kerah baju, di kubik besi ini kita mengadu nasib yang sama.
Menggugah keramaian ibu kota, beton-beton penyangga ekonomi menjadi saksi, bahwa mereka menggulirkan roda penghidupan dengan jerih masing-masing. Satu memikul satu menjinjing, mereka sama-sama mengangkut nominal.
Antara peluh keringat dan sesuap nasi, terselip niat kerja ilahi. Dapur boleh mengepul …

Tuliskan

Image
Aku telah lama pergi dan banyak yang terjadi. Memberitahumu aku telah kembali adalah satu hal. Namun menceritakan apa yang telah terlewati adalah lain hal.
Aku bisu dan kamu tak bisa diam. Lidahku kelu tapi kupingmu gatal. “Tuliskan saja kalau begitu”, katamu.
Di antara jeda pertemuan ini, hanya kamu yang tak pernah menyerah untuk tanyakan kabar. Hanya kamu yang benar-benar memaknai ‘sampai jumpa’.
Kau pernah ajak aku bicara dengan cerita hujan dan sekarang kau minta aku kisahkan dongeng senja. “Kisahkan layaknya itu cahaya terakhir sebelum malam menelan dingin”, tambahmu.
Aku bukan pujangga dan kau jelas tahu meracik bait roman bukan bakatku. “Kamu tak lupa bagaimana cara menggunakan pena, bukan?”, paksamu.
Terima kasih telah kembalikan aku pada kertas dan tinta. Terima kasih untuk sadarkan aku bahwa tulisan bisa menebar kehangatan langit. Serta terima kasih telah menjadi pembaca yang baik.
Terlepas dari semua itu, ada hal lain yang tak bisa kutuliskan namun mestinya kuungkapkan. Suatu s…

Kisah Kita

Image
Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu.
Antara Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak terkecuali bagi aku yang pernah menolak luluh.
Seringai malu menyemarai setiap kali kuingat betapa lugunya kita waktu itu. Kau tunjukkan rona senja namun yang kuperhatikan rekah merah yang lain. Kau lemparkan ‘sampai jumpa’ dan aku berharap malam terlipat hingga esok.
Antara Bekasi dan wajahmu yang pasi, kau sembunyikan kekecewaan seperti kura-kura yang meringkuk di balik kubangan.
Antara Bandung dan mendung, kau tinggalkan dua hal yang kubenci setelah hujan: genangan dan kenangan.
Sesekali kisah kita terkungkung sendu. Tapi kuputuskan untuk tak menyerah padamu. Jika kau perhatikan, lengkung senyum tak pernah lurus. Kebahagiaan seringkali dimaknai setelah kita merangkak pupus.
Aku sang pendongeng, ceritakan tapak-tapakyang pernah kita lalui. Dari satu titik ke titik lain terbe…

Di Sela-sela Hujan

Image
Kau tinggalkan aku dengan hujan dan jendela, kombinasi yang tepat untuk menyangga sendu yang bertumpu di antara tangan dan dagu. Penat terasa pada kehidupanku yang terbingkai bilah kayu persegi, sementara naluriku menyeret paksa untuk pergi.
Yang kuusap bukan raut yang wajah terlanjur sembab, tapi bilah kaca yang buram melembab. Dari sudut kamar ini, pandanganku menyapu taman yang terselimut basah. Di situ air mengalir untuk hembus kehidupan, bukan bersumber dari kepedihan.
Jika kebahagiaan tak bisa kucari di dalam sesaknya hati, akankah ruang di luar sana memberi kesempatan yang lebih berarti? Angin dingin enggan membawa pertanyaanku, kuputuskan untuk melangkah keluar demi sebuah jawab.
Apa yang kucari di sela-sela hujan adalah kebijaksanaan yang merampungkan bait-bait sajakku, yang menerjemahkan sepi dari riuhnya guntur, yang menunjukkan cercah cahaya dibalik mendung.
Sayangnya langit hanya tandakan isyarat, tanpa beri petunjuk akurat. Lantas bagaimana aku tahu hujan mana yang bisa janj…