Tuesday, 13 June 2017

Kisah Kita



Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu.

Antara Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak terkecuali bagi aku yang pernah menolak luluh.

Seringai malu menyemarai setiap kali kuingat betapa lugunya kita waktu itu. Kau tunjukkan rona senja namun yang kuperhatikan rekah merah yang lain. Kau lemparkan ‘sampai jumpa’ dan aku berharap malam terlipat hingga esok.

Antara Bekasi dan wajahmu yang pasi, kau sembunyikan kekecewaan seperti kura-kura yang meringkuk di balik kubangan.

Antara Bandung dan mendung, kau tinggalkan dua hal yang kubenci setelah hujan: genangan dan kenangan.

Sesekali kisah kita terkungkung sendu. Tapi kuputuskan untuk tak menyerah padamu. Jika kau perhatikan, lengkung senyum tak pernah lurus. Kebahagiaan seringkali dimaknai setelah kita merangkak pupus.

Aku sang pendongeng, ceritakan tapak-tapakyang pernah kita lalui. Dari satu titik ke titik lain terbentuk garis. Pada pemberhentian ini, telah tampak sketsa wajah kita yang saling berhadapan. Barangkali sudah saatnya untuk memberi warna.

Antara kamu dan diamku, kuhimpun semua keberanian yang tertimbun ragu, hingga kutekadkan untuk maju.

Antara aku dan kediamanmu, bingung kumenyusun diksi untuk yakinkan bapakmu, agar ia relakan kita bersatu.



Salemba, 12/06/17


gambar dari sini

Tuesday, 18 April 2017

Di Sela-sela Hujan



Kau tinggalkan aku dengan hujan dan jendela, kombinasi yang tepat untuk menyangga sendu yang bertumpu di antara tangan dan dagu. Penat terasa pada kehidupanku yang terbinkai bilah kayu persegi, sementara naluriku menyeret paksa untuk pergi.

Yang kuusap bukan raut yang wajah terlanjur sembab, tapi bilah kaca yang buram melembab. Dari sudut kamar ini, pandanganku menyapu taman yang terselimut basah. Di situ air mengalir untuk hembus kehidupan, bukan bersumber dari kepedihan.

Jika kebahagiaan tak bisa kucari di dalam sesaknya hati, akankah ruang di luar sana memberi kesempatan yang lebih berarti? Angin dingin enggan membawa pertanyaanku, kuputuskan untuk melangkah keluar demi sebuah jawab.

Apa yang kucari di sela-sela hujan adalah kebijaksanaan yang merampungkan bait-bait sajakku, yang menerjemahkan sepi dari riuhnya guntur, yang menunjukkan cercah cahaya dibalik mendung.

Sayangnya langit hanya tandakan isyarat, tanpa beri petunjuk akurat. Lantas bagaimana aku tahu hujan mana yang bisa janjikan pelangi.

Seperti bianglala, perasaanku hanya berputar tanpa beranjak. Aku bergerak pada poros keyakinan yang berselaras pada jiwamu. Maka saat langit turunkan milyaran butir air, aku hanya bisa pasrah dan basah. Karena berteduh tanpamu bukanlah pilihan.



Bandung, 18/04/17

gambar dari sini

Saturday, 4 March 2017

Hidung Mungil



Aku merindukan bibir tipismu, saat kau jepitkan di antara gigi taring. Terlepas itu kebiasanmu untuk membalas kata yang salah ucap, aku menikmati senyum yang terkembang tanpa sengaja karenanya.

Aku merindukan hidung mungilmu, yang biasa kau garuk walau tak merasa gatal. Dengan begitu kau hilangkan kekakuan sekaligus tanda yang memaksaku untuk memulai percakapan.

Tak perlu kau hitung detik yang berlalu untuk tanyakan kapan aku merindu, sebab waktuku terhempit sesak dengan kepergianmu.

Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.

Aku merindukan sapa yang kau lempar dengan canggung, saat aku menoleh pada tatapanmu yang hilang, saat aku mencari rona malu yang kau sembunyikan.

Aku merindukan gerutumu pada langit yang terus turunkan hujan, saat aku berharap kita bisa berteduh seharian, saat aku bisa tawarkan peluk untukmu yang kedinginan.

Tak perlu kau hitung depa yang terlewat untuk tanyakan di mana aku merindu, sebab jarak tak pernah menjamin aku bisa meraihmu.

Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.

Aku merindukan kernyit dahimu, beserta ekspresi penasaran yang membuatku rela menyimpan jawaban selama mungkin atas keingintahuanmu. Sementara aku mengalihkan pandangan ke sudut langit-langit


Aku merindukan jari-jemarimu, saat mereka mainkan pena dengan lincahnya. Adakah aku dalam benakmu saat kau mulai merasa bosan?


kapuk, 04/03/17







gambar dari sini
terinspirasi dari Small hands, keaton henson

Wednesday, 15 February 2017

Di Penghujung Januari



Januari lekas pergi, namun kita masih di sini.

Barangkali aku, yang menikmati rintik air kala berteduh atau diam diam berharap agar hujan terlambat reda. Sementara kau nyalakan kehangatan dari kisah lucu masa kecilmu yang suka bermain di kubangan.

Senja telah beranjak, namun kita enggan bergerak.

Barangkali kamu, yang gugup menggariskan rasi atau berbisik pada awan untuk menelan satu bintang. Sementara aku dengan lugu tawarkan rembulan dari bilah cermin kecil yang kau pandang ragu.

Kau tersenyum. Aku juga. Lalu kita menafsirkannya dengan harapan masing-masing.

Entah sudah berapa lama, kita mulai lihai mencari alasan untuk bertemu. Sapa yang dulu terselip di sekat bilik ruang kerja, kini berbuah percakapan yang berbalas canda. Waktu menggerus jarak dan kesabaran mengusir canggung.

Aku dan kau, kini terpaut jeda sebilah meja kayu, yang tak lebih panjang dari sejulur bahu. Sayangnya tangan kita masih terlipat – menyembunyikan perasaan rapat-rapat.

Saat mata kita bertemu pada sekelebat tatapan, kita menyepakati satu hal yang sama: terlepas dari kebisuan ini, semoga yang terhidang di antara kita bukan sepotong penyesalan yang kita gigit dengan pahit.

Selamat makan.


kapuk, 31/01/17




gambar dari sini

Sunday, 15 January 2017

Paku


Barangkali harus kau tebar paku di depan kamar hatimu. Agar tak ada lagi yang berani datang dengan langkah ragu. Sebab yang kau butuhkan bukan sekadar pengetuk pintu.

Tak setiap orang mengerti bagaimana menafsirkan isyarat penolakan. Maka berhentilah bersikap terlalu baik pada semua. Tentu kau tak mau menebang pohon ketulusan yang tumbuh dari benih kesalahpahaman.

Jangan lantunkan kesepianmu pada puisi yang menggema di telinga para penunggu malam. Karana sajak akan bersambut mencari penyejuk bagi jiwa yang sendiri. Katahuilah bahwa saat petang bukan hanya bulan yang dirindukan.

dan satu pintaku yang terakhir…

Tatap aku saat kita berbicara. Dari bola mata, kita bisa menulis dan membaca. Maka sampaikan tanda bila jendelamu terbuka. Aku tak mau menginjak paku dengan penuh luka.


larangan, 14/01/17


gambar dari sini