Posts

Rindu Kemarin Sore

Image
Jika angin mengetuk jendela kamarmu semalam, jangan khawatir. Itu rinduku kemarin sore. Jika langit menyapamu hangat pagi ini, jangan abaikan. Itu doaku sebelum fajar.
***
Aku menghitung detik yang terlewat, kemudian menyesali hari yang berganti tanpa ada kemajuan. sayangnya waktu tak bisa disalahkan. Ia bergerak dengan jalannya yang konstan dan memaksaku menyadari bahwa telah begitu lama aku menunggu; atau membuatmu menunggu.
Barangkali mereka benar, aku pengecut yang hanya berdalih di balik alasan ‘saat yang tepat’. Aku menatap esok sebagaimana kemarin. Masa depan tak pernah menjanjikan apa-apa, namun aku berharap layaknya tanganku akan merengkuhnya. Atau barangkali, telah ada yang menuliskannya.
Di antara jarak yang direntangkan untuk menjaga, rindu marun jatuh dari tangkainya. Sudikah kamu lembut memungutnya? Di jeda sapa yang ditangguhkan untuk melindungi, doa menjembatani ketulusan hati. Adakah kamu di seberang sana sedang menanti?
Entah sampai kapan aku membiarkan kita berdiri di te…

Sandiwara

Image
Tak ada aku di esokmu, sebagaimana kau hilang dari hariku yang berlalu.Sapa kemarin sore kita lontarkan hanya untuk kemudian beradu punggung. Lantas mengapa saat itu kita masih bersandiwara?
Di antara mereka yang bersembunyi di balik rias, kau pilih bersembunyi di balik senyum. Matamu sembab namun tak tega untuk berlinang. Aku bingung menerjemahkannya isyarat tanpa panduan makrifat.
Ceriamu menarik simpul tawa, namun setelahnya adalah hampa. Candamu berbubuh candu, sayangnya itu membawa pilu. Kita menjalani kepura-puraan yang sedari awal telah diduga.
Sampai pada titik di mana mata tak lagi beradu, kita hanya tertunduk menatap kaki yang telah lelah berjalan. Sia-siakah langkah yang telah terjejak?
Yang kutahu kita sama-sama terluka.
Aku berdarah tanpa bercak merah. Aku cedera tanpa gores menganga. Dengan lebam yang tertahan gumam, aku terjatuh bersama tubuh yang rapuh.
Tak adakah lenganmu tawarkan genggaman?




gambar dari sini
Jetis, 02/01/17

Sapa

Image
Di ujung kata-kata yang telah disusun bersama, kita bingung menyematkan titik atau koma. Sementara masing-masing masih menyimpan tanda tanya.
Kita dara muda, yang bermain-main dengan rasa percaya. Tak memahami bahwa ada konsekuensi dari condongnya hati.
Harapan itu telah dilontarkan terlalu tinggi, sementara aku tak belajar bersahabat dengan langit. Kita terbang terlalu nyaman, tak sadar bahwa selain hembus, angin juga membawa hempas.
Di hari kita berbagi senja, kita berbisik agar tak ada yang benar-benar tenggelam. Namun perputaran bumi membawa cerita kita ke warna langit yang lain. 
Mentari esok hari menjanjikan kehangatan baru, namun barangkali kita terlalu takut lewati gelap malam.
***
Ke dalam sungai Siak, yang mereka bilang bukit pun tertelan, kucoba tenggelamkan perasaan itu dalam-dalam.Sekaligus ingin kuuji sebuah nasihat bijak, bahwa hati yang ringan akan mengapung tuk kemudian mencari muaranya.
Batin menggunyam diksi, jiwa menyulam aksara. Padahal aku hanya ingin menyapa.
Adakah di…

Memeluk Rindu

Image
Barangkali khilaf membawaku lupa bahwa Tuhan yang memainkan lakon semua bidak. Intervensi manusiawi tak bisa menyangkal bahwa Ia sang pembolak-balik hati. Maka ke mana lagi mesti pergi kalau bukan kembali.
Sepertinya ilusi menyeretku pada gawal bahwa aku mampu berbuat sesuatu. Sementara semesta kejadian telah digoreskan pada kitab yang terpelihara. Aku tersesat pada peta dengan legenda yang salah terbaca.
Pergi sejatinya bukan soal tergesa beranjak, apalagi berlari. Ketenangan diri didapat penerimaan atas ketidakmengertian pada keadilan langit.
Sembari menghela nafas, sisipkan perjalanan dengan prasangka baik-Nya. Tapak melangkah terbuka dari cara menekuk lutut dan mendekap subuh.
Aku lelah dengan kebingungan mencari arah. Di antara wajah dan tempat berpasrah, kuharap bertemu pengertian dari tanya yang sedari dulu kudesah.
Sedekap lengan di ulu hati, harap dipanjat enggan dinanti.
Tersungkur kening di sudut sujud, biarlah sampai niat dimaksud.
Teriring air menyejuk dagu, beginilah aku memel…

Memanjat Hujan

Image
Gemuruh mendung mengabarkan khalayak untuk diam sejenak. Tirau kelabu dijuntaikan, separuh cahaya tertawan. Satu demi satu, milyaran butir diturunkan. Di bawah kanopi, aku berteduh dan merenungi nasehatmu.
Terima kasih telah ingatkanku untuk tidak membenci hujan.

Sebab hujan bukan derap dingin yang menyambut gigil. Ia membelai bumi dan membawa janji kehidupan. Daun-daun yang bernafas memanggilnya bertamu, untuk kemudian sampaikan salam kepada awan saat ia kembali.
Langit merajut hujan menjadi selimut. Ujungnya menjangkau jemari kaki yang lusuh. Biarkan hujan memeluk, biarkan ia nyanyikan lagu pengantar tidur. Hujan adalah teman yang menuntun kita pada mimpi.
Tetes hujan adalah karunia yang tumpah dari telaga surga. Dibawanya kebermanfaatan bagi mereka yang mau menerima. Dari sana tumbuhlah penghijauan lengkap dengan buah kebijaksanaan.
Hujan mengajarkan kita cara berdamai, sebagaimana ia menjelma kubangan, sebagaimana ia merayap di jalanan. Biarkan hujan mengaburkan air mata, biarkan ia …

Muak

Image
Aku muak denganmu dan kau harus tau.
Aku muak dengan perasaan carut-marut saat menemukan wajahmu di tengah kerumunan. Sapa hangat mentari menjadi kesia-siaan dengan tawaran menu sarapanmu yang tak jauh-jauh dari kecemasan dan kegelisahan. Berhentilah mengumbar senyum kepalsuan yang syarat akan mau dan maksud.
Aku muak dengan tatapan rendah itu. Kita menginjak tanah yang sama dan berdarah dengan merah yang serupa. Strata sosial hanya tangga imaji yang dibuat agar kaum akar rumput tak beranjak dari dasar kehinaan. Ingin kupaksa kau menggunakan kacamata kuda secara vertikal agar punya sudut pandang manusiawi.
Aku muak dengan nyalimu yang kopong seperti kardus bekas. Kau hanya kucing jalanan di balik panggung tempatmu biasa memamerkan topeng singa. Pertunjukanmu telah usai dan penonton tak sabar menunggumu menutup korden. Kau tak perlu umbar kisah berburu sebab sebab parasit tak dihitung dalam kelompok pemangsa.
Aku muak dengan kuliah nirfaedah dari bibir berbusa itu. Aku tidak sedang dalam w…

Gincu

Image
Aku bingung bagaimana mesti memandang potret narsisme di dinding dinding generasi portal. Satu mata berkedip menjaring perhatian dan satu lagi melotot “lihat apa kau!”. Haruskah kukunci kelopak setiap kali bertemu topeng penuh gincu?
Baiklah, menjaga memang bukan tugas satu pihak. Namun sepatutnya kita mengenal kebijaksanaan lokal atas apa yang dianggap proporsional. Di sudut kota orang biasa mendendangkannya: yang sedang-sedang saja.
Terserah mereka sebut merah anggur atau jingga senja, yang layak dihargai dari bibir adalah ucap kejujuran. Entah apapun yang terpoles pada lesung pipi itu, yang perlu diperhatikan adalah ekspresi ketulusan.
Wajahmu, wajahku, wajahnya, semua diukir dalam bentuk masing-masing untuk saling mengenal. Maka tak perlu berlebih menabur kapur.
Mukaku, mukamu, mukanya, semua terpasang untuk tersungkur. Dahi tertunduk dan hidung mencium bau tanah. Lantas langit apa yang perlu ditatap silau?
***
Teruntuk kamu, terima kasih untuk menjadi apa adanya, saat sekelilingmu b…