Posts

Senyap

Image
Aku menyukai caramu membiarkanku mengabaikanmu malam itu. Dari situ kupahami dunia kita tak dijembatani aksara. Kita bersapa melalui tatap rela.
Jemariku mengetuk meja sedangkan kau menyibukkan garpu dengan serpihan sisa pasta. Barisan narasi yang tersiapkan sedari sore telah tertelan. Aku dan kau menyetujui bahwa mata dan raut muka pun bisa bicara, dengan interpretasi yang boleh jadi tidak sama.
Kita pernah beresonansi pada getar perasaan yang senada. Ketuk demi ketuk membawa kita saling mengangguk. Lantun harmoni menggoda kaki untuk berhentak dan menari, lupa bahwa malam tawarkan gemerlap dengan garis langit di ujungnya.
Kini kita adalah detak jantung yang tak lagi terdengar familiar. Kita lupa pada udara yang pernah terhirup dan membiarkannya terhembus bersama angin musim gugur yang dingin. Namun barangkali itu cara terbaik untuk bernafas.

Kuperhatikan wajahku dengan lekat dari pantulan bola matamu dan kuyakini tak ada gurat penyesalan. Begitu pula mataku merekam. Aku dan kau menyepaka…

Rembulan Malam Ini

Image
Senja menyapamu lebih dulu, mewakili keinginanku untuk menyambutmu pulang. Kau bilang warnanya menenangkan. Bagiku kabarmu yang justru menenangkan.
Rembulan mendatangimu lebih dulu dan aku senang denganmu yang antusias menceritakan bagaimana ia muncul kali ini. Ceritamu melipat jarak seakan kita berada di belahan bumi yang sama.
Malammu gemerlap bintang sementara siangku beratapkan awan. Gelap ataupun terang, ia dilukis sebagai penanda sekaligus pengingat, bahwa kita berada di bawah langit yang sama.
Hujan tak ke mana-mana, setidaknya untuk hari ini. Ia di sini menemaniku merayakan kesepian, menampung gundah pada kubangan gelebah. Boleh jadi suatu saat ia menghampirimu untuk antarkan pesan.
Rindu akan mencari caranya sendiri untuk bisa tersampaikan. Ia titipkan pada alam. Ia lewatkan pada kekuatan yang tersamarkan. Adakah sedikit getar kau rasakan?



Rode kruislaan, 26/09/18

Luka

Image
Dari sekian banyak cara terluka, kupilih jatuh cinta. Barangkali tak kupahami bagaimana perasaan bekerja. Tapi aku masih muda.
Dari sekian banyak cara tersakiti, kupilih jatuh hati. Tak seharusnya pemula bermain main dengan ekspektasi. Tapi aku masih sanggup berdiri.
Aku menaruh kepercayaan sedalam palung, sebagaimana kupastikan diri untuk masuk ke dalamnya. Namun di antara tenggelam atau menyelam, aku tak punya daya untuk memilih. Biarlah arus membawaku.
Tak perlu kau ingatkan nafas kepada aku yang sudah terjun. Kugadaikan paru-paru untuk menghirup perhatian. Kutumbuhkan insang dari relung harapan untuk mencari gelembung kasih. Semoga yang kualami tak lebih dari sekadar tersedak.
Aku bersiap dengan kekolotan dan kepolosan, bahwa ketulusan akan membawa kedamaian, baik dalam wujud syukur atau ikhlas. Walaupun keduanya tampak sama, mereka terjeda realita yang sangat memberatkan.
Kudiamkan malam sebagaimana ia tak izinkan mataku terpejam.Denganmu yang entah bagian dari sebab atau akibat, sem…

Masih Sama

Image
Lesung pipimu masih sama, begitu pula dengan caraku mencuri pandang. Jika kuperhatikan dengan seksama, di ujung busur senyum, tersemat cekung tempatku menitip kagum. Adakah perasaan ini menjadi ranum?
Selama ini aku menyimpan wajahmu. Kadang di sudut beranda malam. Kadang di lempitan kabut kesepian. Sengaja tidak kubingkai, sebab kuingin ia menyatu bersama latar rindu. Secara samar menjadi siluet di relung kalbu.
Corak matamu masih sama, begitu pula dengan sipu maluku di balik temu tatap. Beruntung aku menjaga jarak. Kutakut lensamu menangkap aku yang bak kepiting rebus. Kutakut kau dengar dadaku yang terlalu gaduh.
Ada di persimpangan lorong gebu, ada di salah satu bilik ragu. Aku tak membiarkanmu hilang. Namun tak juga kupupuk untuk berkembang. Entah kau berada di kediaman pulang atau sekedar rumah singgah untuk dikenang.
Degup gaguku masih sama, begitu pula dengan ketidakpekaanmu, begitu pula dengan kepengecutanku. Atau mungkin sebaliknya. Kita terjebak pada ketakutan untuk melangkah. …

Teman Senja

Image
Dalam adegan senja, aku bocah pukul enam sore yang menanti gelap. Dengan kerut ketidakmengertian, kupertanyakan siapa yang lebih dulu hilang, bayanganku atau sisa cahaya di ujung sana.
“Aku sudah datang, mengapa tanyakan yang hilang?” “Setiap yang datang pasti akan pulang, bukan?” “Setiap orang bisa mengubah tempat pulangnya.” “Tidakkah kau rindu rumah?” “Rumah adalah tempat yang tak bisa kita tinggalkan tanpa kehilangan separuh hati” “lalu?” “Kau tahu di mana aku telah menaruh separuh hati itu.” “Mungkin. Tapi bongkah separuh hanya indah untuk rembulan. Aku berikan penuh.” “Kalau sudah satu, boleh aku genapkan?” “…”

 “Hentikan senyummu. Aku malu.” “Tidak apa-apa, dengan begini aku bisa melihat rona senja dua kali.” “Kukira kau lebih tertawan pada rembulan.” “Walau aku harus menunggu dua pekan untuk senyum sabit rembulan, ada lengkung yang lebih kurindukan.” “…”




Tarempa, 11/05/18
gambar dari sini

Terus Melangkah

Image
Kutanyakan pada kakiku yang sudah tampak lelah, sampai manakah harus melangkah?Jejak-jejak mungil itu telah panjang mengekor, beriringan dengan sepasang yang serupa.
Sepatu mungilmu datang di ujung musim gugur tahun lalu. Sembari menjinjit kau sejajarkan pundak kita untuk sampaikan sepotong pesan ke telingaku. Aku mengangguk dan tersipu, membiarkan wajahku mengalahkan marunnya serakan daun Momiji yang sedang kita injak.
Dari pertemuan itu, kudapati sosok yang membersamai untuk menyemai tapak sepanjang perjalanan. Aku tidak lagi menoleh pada ruang hampa saat sejenak mengusap peluh di dagu. Kuucapkan selamat tinggal pada pohon oak tempat ku biasa menyandarkan punggung dan bergumam.
Sesekali kita mengendus bau keraguan, bukan atas ketidakmampuan menjaga apa yang kita yakini, namun pada ketakutan yang ditawan waktu. Beruntungnya, ketidakberdaayan membuat kita bergantung pada prasangka baik atas doa yang tak pernah putus.
Sekian musim terlewat, didepanku kau pasang senyum yang tak pernah terl…

Doa yang membosankan

Image
Aku penasaran bagaimana Tuhan membalas jutaan doa yang dikirimkan hamba-Nya setiap waktu.
Jika doa adalah sekuncup pinta, akankah Ia siramkan kemurahan agar mereka tercukupi dengan segala keinginan.  Jika doa adalah sejumput tanya, akankah Ia taburkan kebijaksanaan agar mereka terpuas dari ketidakmengertian.
Mereka bilang doa menjembatani getar ruhani antara abdi dan ilahi, bahwa jarak antara angan dan kejadian terjeda sejauh kening dan tempat bersujud. Maka sudah sepatutnya kupasrahkan seluruh ketidakberdayaan kepada sang pemilik kuasa.
Jika doa adalah sejuntai harap, akankah Ia salurkan kasih sayang untuk lengkapi apa yang sedang ditambat.  Jika doa adalah setangkup syukur, akankah ia guyurkan nikmat berkali lipat atas apa yang telah didapat.
Mereka bilang doa adalah alat yang menerjemahkan bahasa pengandaian pada ukir kenyataan. Boleh jadi ijabah tak serupa dengan hajat, namun tetap dipahat dalam wujud terbaik. Maka tak seharusnya kuajukan tuntutan yang mengundang kekecewaan.
***
Tidakkah…