Friday, 13 October 2017

Muak



Aku muak denganmu dan kau harus tau.

Aku muak dengan perasaan carut-marut saat menemukan wajahmu di tengah kerumunan. Sapa hangat mentari menjadi kesia-siaan dengan tawaran menu sarapanmu yang tak jauh-jauh dari kecemasan dan kegelisahan. Berhentilah mengumbar senyum kepalsuan yang syarat akan mau dan maksud.

Aku muak dengan tatapan rendah itu. Kita menginjak tanah yang sama dan berdarah dengan merah yang serupa. Strata sosial hanya tangga imaji yang dibuat agar kaum akar rumput tak beranjak dari dasar kehinaan. Ingin kupaksa kau menggunakan kacamata kuda secara vertikal agar punya sudut pandang manusiawi.

Aku muak dengan nyalimu yang kopong seperti kardus bekas. Kau hanya kucing jalanan di balik panggung tempatmu biasa memamerkan topeng singa. Pertunjukanmu telah usai dan penonton tak sabar menunggumu menutup korden. Kau tak perlu umbar kisah berburu sebab sebab parasit tak dihitung dalam kelompok pemangsa.

Aku muak dengan kuliah nirfaedah dari bibir berbusa itu. Aku tidak sedang dalam wisata kuliner abal dan tak sesuap omong kosong ingin kutelan. Sungguh kau bukan perkutut, kicaumu hanya memadatkan kebisingan bak toa tua. Satu-satu yang layak kau tiru dari burung hanyalah memahat pohon dengan paruh lancipmu.

Aku muak dengan dadaku yang menjebak kata-kata. Jika kau kerap menubrukkan satir, semestinya aku tak perlu mengkhawatirkan norma eufemisme. Aku tidak sedang membakar bediang, tak perlu ada asap sesak yang kuhirup.

Aku muak dengan kenyataan bahwa baik-baik saja adalah kemewahan yang sebenarnya terlalu mahal untuk dirasa. Mereka mengobralnya dengan senyum getir yang memoles kesadaran bahwa neraka itu ada; dan kau batu bara yang menyulut apinya.

Aku tak mau muak dengan diriku sendiri yang terlalu peduli dengan tingkah konyolmu. Namun aku muak denganmu dan kau harus tau.



Shibi, 13/10/17



gambar dari sini

Sunday, 17 September 2017

Gincu



Aku bingung bagaimana mesti memandang potret narsisme di dinding dinding generasi portal. Satu mata berkedip menjaring perhatian dan satu lagi melotot “lihat apa kau!”. Haruskah kukunci kelopak setiap kali bertemu topeng penuh gincu?

Baiklah, menjaga memang bukan tugas satu pihak. Namun sepatutnya kita mengenal kebijaksanaan lokal atas apa yang dianggap proporsional. Di sudut kota orang biasa mendendangkannya: yang sedang-sedang saja.

Terserah mereka sebut merah anggur atau jingga senja, yang layak dihargai dari bibir adalah ucap kejujuran. Entah apapun yang terpoles pada lesung pipi itu, yang perlu diperhatikan adalah ekspresi ketulusan.

Wajahmu, wajahku, wajahnya, semua diukir dalam bentuk masing-masing untuk saling mengenal. Maka tak perlu berlebih menabur kapur.

Mukaku, mukamu, mukanya, semua terpasang untuk tersungkur. Dahi tertunduk dan hidung mencium bau tanah. Lantas langit apa yang perlu ditatap silau?

***

Teruntuk kamu, terima kasih untuk menjadi apa adanya, saat sekelilingmu berisik menanyakan ada apanya. Tetaplah cantik seperti itu, terlepas dari bagaimana orang mendefinisikannya.

Biar kuberi tahu. gigi gingsulmu itu sudah jadi ramuan yang pas untuk mendikte arti senyum manis. Dua puluh tahun lagi, barangkali aku tak akan ingat bagaimana pukau-pikat dari parasmu. Namun yang tidak akan kulupa ialah bagaimana lengkung itu membuatku tersipu.



Embong Kaliasin,
16/09/17

gambar dari sini

Tuesday, 22 August 2017

Menyapa Manggarai Pagi





Aku sudah terjaga saat malam enggan pergi. Kucari secercah cahaya untuk sekadar menatap wajah polos itu. Kau masih terpejam.

Kecup sederhana pada kening yang mungkin tak kau sadari menjadi salam perpisahan, serta ungkap penyesalan, karena kita terpaksa berbagi potongan mentari yang berbeda.

Menyapa Manggarai pagi, gerbong kereta membawa mereka meniti jalur rejeki. Dijejalkannya tulang punggung pada himpitan harapan, bahwa selama masih dapat menjejakkan kaki, mereka tak akan berhenti.

Aku berada di sela-sela ketiak dari lengan yang menggantungkan asa. Setel pakaian yang disetrika buru-buru itu kini harus berbagi kusut. Tak peduli warna kerah baju, di kubik besi ini kita mengadu nasib yang sama.

Menggugah keramaian ibu kota, beton-beton penyangga ekonomi menjadi saksi, bahwa mereka menggulirkan roda penghidupan dengan jerih masing-masing. Satu memikul satu menjinjing, mereka sama-sama mengangkut nominal.

Antara peluh keringat dan sesuap nasi, terselip niat kerja ilahi. Dapur boleh mengepul pekat, namun hidup harus tetap pada hakikat. Di tanah tempat semua berebut, banyak orang memasang sikut.

Saat hari telah tertekuk, senja merekam penat wajah mereka. Dari mata yang mengganjal lelap, disisakannya tenaga untuk kembali pulang ke tempat yang mereka sebut rumah, entah apapun bentuknya.

Setibanya aku di depan pintu yang kau ganjal dengan penantian, kudapati lampu bilik telah meredup. Dengan getir penyesalan yang sama, aku mengecup keningmu lagi.




Cikini, 21/08/17


gambar dari sini

Wednesday, 12 July 2017

Tuliskan




Aku telah lama pergi dan banyak yang terjadi. Memberitahumu aku telah kembali adalah satu hal. Namun menceritakan apa yang telah terlewati adalah lain hal.

Aku bisu dan kamu tak bisa diam. Lidahku kelu tapi kupingmu gatal. “Tuliskan saja kalau begitu”, katamu.

Di antara jeda pertemuan ini, hanya kamu yang tak pernah menyerah untuk tanyakan kabar. Hanya kamu yang benar-benar memaknai ‘sampai jumpa’.

Kau pernah ajak aku bicara dengan cerita hujan dan sekarang kau minta aku kisahkan dongeng senja. “Kisahkan layaknya itu cahaya terakhir sebelum malam menelan dingin”, tambahmu.

Aku bukan pujangga dan kau jelas tahu meracik bait roman bukan bakatku. “Kamu tak lupa bagaimana cara menggunakan pena, bukan?”, paksamu.

Terima kasih telah kembalikan aku pada kertas dan tinta. Terima kasih untuk sadarkan aku bahwa tulisan bisa menebar kehangatan langit. Serta terima kasih telah menjadi pembaca yang baik.

Terlepas dari semua itu, ada hal lain yang tak bisa kutuliskan namun mestinya kuungkapkan. Suatu saat kamu akan tahu.


tulungrejo, 27/6/17



gambar dari sini

Tuesday, 13 June 2017

Kisah Kita



Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu.

Antara Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak terkecuali bagi aku yang pernah menolak luluh.

Seringai malu menyemarai setiap kali kuingat betapa lugunya kita waktu itu. Kau tunjukkan rona senja namun yang kuperhatikan rekah merah yang lain. Kau lemparkan ‘sampai jumpa’ dan aku berharap malam terlipat hingga esok.

Antara Bekasi dan wajahmu yang pasi, kau sembunyikan kekecewaan seperti kura-kura yang meringkuk di balik kubangan.

Antara Bandung dan mendung, kau tinggalkan dua hal yang kubenci setelah hujan: genangan dan kenangan.

Sesekali kisah kita terkungkung sendu. Tapi kuputuskan untuk tak menyerah padamu. Jika kau perhatikan, lengkung senyum tak pernah lurus. Kebahagiaan seringkali dimaknai setelah kita merangkak pupus.

Aku sang pendongeng, ceritakan tapak-tapakyang pernah kita lalui. Dari satu titik ke titik lain terbentuk garis. Pada pemberhentian ini, telah tampak sketsa wajah kita yang saling berhadapan. Barangkali sudah saatnya untuk memberi warna.

Antara kamu dan diamku, kuhimpun semua keberanian yang tertimbun ragu, hingga kutekadkan untuk maju.

Antara aku dan kediamanmu, bingung kumenyusun diksi untuk yakinkan bapakmu, agar ia relakan kita bersatu.



Salemba, 12/06/17


gambar dari sini